Kumpulan Cerpen Bambang Bonari yang Mengangkat Kearifan Lokal Masyarakat Melayu Siak “JANDA RUMAH SEBELAH”

DAERAH, SIAK380 Dilihat

 

“Abang nak tau….??” kata istriku pagi ini.

Aku yang baru saja terduduk di kursi meja makan tertegun mendengarnya. Terpaksa tangan kananku yang hampir menyentuh piring berisi nasi goreng ku hentikan, dan ku alihkan berpura-pura membenahi kancing baju seragam dinas guru ku yang sebenarnya sudah rapi. Kawan, menurut penelitian dan hasil observasi mandiriku selama ini, kalau sudah mengucapkan kalimat “abang nak tau?”, berarti ada hal mustahak yang menurut istriku penting segera disampaikan. Dan kalau sudah begitu, aku harus mendengarnya takzim. Kalau tidak, akan kena hamuk tak tentu pasal macam yang sudah-sudah.

Aku melirik istriku yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di sudut dapur, entah apa.

“Si Leha janda sebelah sekejap lagi akan menikah, antaran belanjanya puluhan juta Bang” sambung istriku, lalu menatapku tajam.
“Oh”.

“Oh saja?” sekarang matanya membesar. Kan betul kawan apa yang ku bilang tadi?.

“Bang..!!” mata itu kian horor.

“Jadi nak macemana?” kata ku bingung.
“Abang tak sedih..?” teror istriku.
“Sedih mengapa pulak?”

“Aku dengar orang-orang kampung kita menceritakan pasal Leha nak kawin lagi tu. Kalau emak-emak iyalah nampak senang, tapi bapak-bapak pulak yang nampak sedih tak menentu”.
“Oh..”

“Oh lagi….?!” Istriku mengaduk kuali masak dengan kasar, kesal. Aku bingung tidak tahu harus bagaimana. Keheningan sejenak hadir di dapur rumah panggung kami yang sederhana khas orang-orang melayu pedalaman ini. Rumah-rumah panggung di kampung kami saling berhadapan menghadap jalan yang membelah kampung. Jalan tanah itu meliuk-meliuk mengikuti alur tebing sungai besar yang mengalir sekitar dua puluhan depa di belakang rumah kami.

Dari rumah panggung kami berdua, jika memandang ke arah hulu sungai besar tadi tampak dua tiang tinggi yang terbengkalai nun di sebuah teluk yang ada mesjidnya, Teluk Masjid jadinya nama kampung itu. Konon tiang-tiang itu untuk membangun jembatan besar yang melintang di atas sungai, macam di Amerika kata orang-orang. Tapi pembangunan jembatan itu terbengkalai karena ada protes dari kapal-kapal tengker yang entah mengangkut ojol entah mengangkut ikan biles. Kapal-kapal besar itu khawatir tak bisa lewat tersangkut jembatan.

Nah jika jembatan itu sudah selesai dibangun, dimasa depan kalau nak menyebarang ke Bandar Sungai tak payah menggunakan feri penyeberangan milik Caltex lagi. Konon lagi, jembatan itu nantinya begitu kuatnya sampai mobil teronton pun bisa lewat di atasnya. Daya khayal kami sebagai orang-orang kampung hanya bisa geleng-geleng kepala membayangkan kemungkinan itu. Nak berapa besar kayu tiang jembatannya? Sedang kayu-kayu besar di kampung-kami sudah punah ghanah dilantak orang-orang kota, paling tinggal kayu tulang-tulang dan kayu tengkek burung yang disisakan untuk gheban ayam orang-orang kampung.

Lagi pula ini adalah sungai terdalam di Indonesia kawan, karakter tebingnya curam dan mudah runtuh, bagaimana pula nak menyatukan kedua sisinya?.
Kawan tahu, sungai terdalam inilah yang menjadi saksi bisu sejarah perjalanan Sultan Siak pertama, yatu Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah. Beliau berlayar menyusuri sungai ini, yang dahulunya bernama Sungai Jantan, bersama armada pasukannya untuk menuntut bela merebut tahta kerajaan di Johor yang menjadi haknya. Sungai ini juga yang menjadi saksi bisu masa kecilku bermain dan berenang bersama teman-teman.

Tepat di tengah muara sungai, terdapat delta sebuah pulau kosong yang menjadi batas akhir kami berenang. Pulau itu dinamai Pulau Tengah, yang konon pula katanya tidak berdasar alias terapung bak sebuah kapal. Kata orang-orang tua kami, dulu seseorang yang berteriak dari pulau tengah itu masih bisa terdengar dari Pelabuhan Lasdap. Kalau sekarang jangankan suara, orangnya pun tak nampak saking jauhnya pulau itu akibat semakin bertambah lebarnya badan sungai.

Di tepi mulut muara sungai besar yang aku ceritakan ini, sebelum Pulau Tengah tadi, tepatnya disebelah kanan sungai arah hilir; terdapat kota tua pelabuhan kecil yang menjadi urat nadi kehidupan kampung-kampung lainnya di seputaran muara sungai. Kota pelabuhan kecil itu merupakan ibukota kecamatan tua yang begitu tenteramnya, hanya ramai pada hari Pasar Rabu dan saat Ramadhan.

Mengapa begitu?

Karena pada saat itulah anak negeri melayu pedalaman yang merantau di negeri orang kembali pulang melabuhkan kerinduan, ditandai dengan bersandarnya kapal kayu KM. Rita atau KM. Jelatik Express di dermaga tua sebelah pelabuhan Lasdap. Kota kecil itu juga menjadi tempat para pejabat dan orang-orang besar kabupaten kembali ke rumah peninggalan leluhur mereka, menghabiskan masa tua untuk berpusara di kampung kelahiran. Saat matahari mulai merekah setelah subuh, kota kecil ini dipenuhi para pensiunan berkumpul di pelataran Masjid Raya Jami’atul Hasanah yang telah berdiri sejak negeri ini belum merdeka, membicarakan berapa anak-berapa cucu; diiringi batuk-batuk kecil khas usia senja.

Aku suka sekali menikmati pemandangan itu, bahkan tidak jarang aku berjalan petang menaiki motor tua butut bersama istri melewati dermaga tua, pasar, lalu ke hilir hingga ke palabuhan Sungai Kayu Ara bahkan sampai ke Kampung Lalang sana. Kami berboncengan menyusuri jalanan kampung merasai angin semilir muara sungai, menikmati pemandangan nelayan tradisional melayu menyandarkan sampan di dermaga-dermaga rakyat setelah seharian membelat ikan. Dan momen yang paling kami nantikan berdua adalah saat-saat lampu penerangan jalan hidup serentak tepat pada pukul lima petang; karena pada saat itulah Pe El En (lebih tepatnya PLTD) dihidupkan petugas untuk menerangi kota kecil itu dan kampung-kampung disekitarnya. Saat lampu-lampu tiang listrik Pe El En itu menyala, anak-anak kecil yang bermain bola kaki di halaman masjid-masjid kampung langsung berlarian pulang sambil berteriak riang “Balek mandi yook, dah jam limo petang dah, berangkat ngajii…”.

Nah kawan, jika nun jauh sebelah hulu rumah kami adalah tiang jembatan yang masih terbengkalai tadi, maka di sebelah hilir tepat di samping rumah kami, terdapatlah rumah si Leha janda muda ditingal mati laki yang menjadi pokok persolan istri ku tadi. Dari jendela dapur tepat dihadapanku, di seberang meja makan, terlihat jelas rumah Leha yang banyak ditumbuhi bunga.

Dan entah mengapa pula mataku terpandang si Leha yang sedang menyapu halaman. Sosoknya yang dibalut baju kurung melayu warna jingga timbul-tenggelam diantara bunga-bunga anyelir. Angin muara sungai jantan tersesat jauh kedaratan bertiup lembut memainkan ujung kerudungnya, membuat terkejut kawanan kupu-kupu yang sedang menari-nari mencari madu bunga. Sesekali diantara kupu-kupu itu nakal dan hinggap di ujung hidung janda muda itu; membuatnya cemberut, menggigit bibirnya yang mungil, dan mendelikkan kelopak matanya yang ah.. membuatku seakan mati rasa melihatnya. Kawan tahu, lado hijau yang tergigit gigi ku pun tak terasa pedas di mulutku.

Pantaslah bapak-bapak di kampung ini macam ayam kena sampok semua membicarakan si Leha.

“Daah..Mengapa pulak abang temenung macam tu? Memikirkan Leha macam bapak-bapak kampung kita tuu? Haa? Selesaikan cepat sarapan dah tu pergi berangkat kerja. Ini hari Senin bang, terlambat upacara nantik” sambung istriku tet..tet..tettt..macam kereta api, masih dari sudut dapur.

“Siapa pulak yang termenung?” keluh ku. Istriku kembali mengerling tajam penuh selidik.
“Iya-iya. Abang berangkat ya dek” pamitku gugup beranjak hendak mencium keningnya.
“Iya, hati-hati” katanya sambil mengelak kecupan ku.
“Kenapa?” kataku masygul.
“Macam pengantin baru saja. Lagi pula adek kan tengah sibuk bang. Pergilah, hati-hati di jalan. Maaf tak bisa ngantar abang ke depan pintu” katanya lagi-lagi macam kereta api.

Aku menghela nafas, bergegas aku mengeluarkan motor tua ku menuju sekolah tempat ku mengabdi.
………………………

Dua bulan kemudian.
“Abang nak tau?” lagi-lagi pagi ini istriku mengeluarkan kalimat ajaibnya.

Lagi-Lagi juga aku tertegun dan urung meraih gelas kopi di meja makan. Aku mendesah, ingin rasanya aku membetulkan kulkas, menebang pohon, menggali perigi atau apapun itu agar terhindar dari amukan tak tentu pasal. Tapi karena tidak memungkinkan, akhirnya lagi-lagi aku hanya pasrah pura-pura membenahi kancing baju dinas guru ku yang itu-itu saja.

“Orang-orang kampung cakap si Leha itu bodoh” kata istriku sambil meniup-niup bara api tungku masak.

“Mereka bilang dia tertipu karena menikah dengan laki pengangguran. Awalnya laki-laki itu mengaku punya pompong pengangkut batu-bata ke Selat Panjang, rupanya cuma A-Be-Ka” sungutnya.
“Oh” kataku seperti biasa.

“Baru saja menikah tapi perhiasan Leha seperti gelang, kalung dan cincin emas Leha telah dijual laki-laki itu. Katanya untuk modal berdagang ikan basah di Pasar Rabu, tapi ternyata untuk membayar hutang di toke cina. Abang nak tau? Antar belanja yang puluhan juta itu rupanya duet hasil hutang ke toke, haa..setelah menikah di jualnya emas Leha untuk membayar hutang dia tadi. Leha pun nurut saja bang. Orang-orang kampung banyak geram, tidak emak-emak saja tapi bapak-bapak pun. Apa pulak tak geram, karena uang hasil penjualan emas tadi tidak cukup untuk membayar hutang, dijualnya pula Honda Leha peninggalan dari suami lama. Apa lagi, Janda kaya itu dah jatuh miskin sekarang dah” suara kerata api itu berputar-putar di ruang dapur kami, sampai pening aku mendengarnya.

“Oh” aku menggeleng-geleng kepala.

“Abang tak tau?” istriku, buah hati si intan payung-ku, menatapku tajam.
“Tak..” kata ku menggeleng pucat ditatap seperti itu.
“Masak tak tau?” ia mulai meneror.

“Manalah abang tau dek. Adek kan tau abang pagi dah berangkat mengajar, pulang siang menjelang sore. Sampai rumah pergi ke kebun. Malam di rumah duduk manis saja jarang keluar kecuali ke masjid. Jadi manalah tau”.

“Oh” istriku kembali sibuk meniup bara api. Aku menghela nafas, tak sengaja tatapan ku ke luar jendela dapur dan hinggap di rumah Leha.
Hmm..banyak daun kering berserakan di halaman dan bunga-bunga tampak tak terurus.

Kemana dia?.

“Tak sampai di situ saja” sambung isteriku.
“Laki-laki itu menjual kebun getah si Leha sebanyak lima jalur. Lima jalur bang, banyak duetnya tu kan?. Kalau masih lima jembo tak apalah. Untuk apa coba? Rupanya dia tetap minta dibelikan Honda, kali ini alasannya untuk mengutip ojol dari rumah ke rumah.” Kereta api itu mulai berjalan lagi.

“Dari mana adek tau?” gatal pula mulutku bertanya, sambil menyeruput kopi.
“Leha sendiri yang keliling kampung menawarkan tanahnya untuk di jual ke orang-orang. Masak abang tak tau?” ia hendak mendelikkan matanya namun tatapannya tidak sengaja ke jendela dapur. Refleks aku mengikuti pandangan istriku. Terihat Leha mencium tangan suami barunya yang hendak pergi entah ke mana. Istriku mencibir. Lalu tiba-tiba ia menatapku tajam, dan memergoki ku yang sedang melihat si Leha tadi.

Aku tersedak.

“Abang berangkat dek yaa” kataku cepat-cepat pamit sambil hendak mencium keningnya. Lagi-lagi ia menolak.

“Tak nampak abang adek tengah masak ikan masen?. Nanti sampai sekolah ibu-ibu guru betanyo pulak; bapak mengapa bau ikan masen?” katanya gusar.
Naning kepala aku mendengarnya, dan langsung bergegas berangkat sambil berucap Assalamualaikum..
……………………….
Dua bulan kemudian, masih dipagi hari saat sarapan.
“Abang tau tak?” tanya isteriku.
“Tak..”
”Orang-orang kampung makin geram nengok kelaku suami Leha yang baru tu. Siapa pulak tak geram?. Rupanya uang hasil penjualan kebun getah si Leha yang katanya untuk membeli Honda, yang katanya untuk mencari ojol itu, lesap entah kemana” kata istriku sambil membersihkan jamur untuk disayur, di dapur, dekat pintu sumur.

“Abang nak tau kemana lesapnya? Rupanya hanya untuk foya-foya laki-laki itu. Kadang dia pergi ke Bengkalis, kadang ke Selat Panjang, kadang ke Tanjung Balai; jalan-jalan tak menentu. Bukan pulak dibawanya si Leha. Sudah habis uangnya baru laki-laki itu kembali ke rumah Leha. Eh sesampainya di kampung, disuruhnya Leha kerja mencari buah pinang”.

“Untuk apa?”
“Dia jual lagi lah”.
“Dari mana adek tau?” refleks aku bertanya.

“Haa..Leha itu kan sekarang keliling kampung pakai sepeda dari rumah ke rumah untuk membeli pinang bang, pakai goni!. Kalau dah dapat buah pinang itu dibelahnya sendiri dan dijemur. Bayangkan bang.. janda muda, solehah, kaya, sekarang jatuh miskin gara-gara menurut saja dengan laki-laki itu. Dulu jari kukunya saja tak sempat kotor karena tak pernah bekerja. Sekarang bukan kotor lagi bang, tapi patah-patah karena mencungkil pinang!”.
“Haa..”.
“Apa haa?”.
“Mencungkil pinang?”.
“Iya”.
“Pakai kuku?”.
“Haa..”.
“Kok haa?”.
“Tak mungkin pulak mencungkil pinang pakai kuku, pakai bangkung lah bang!”.

Suara burung merbah di luar rumah riuh rendah seperti menertawaiku.

“Suami dia?” tanya ku kemudian.
“Ke pasar”.
“Jualan apa ke pasar?”
“Mana ada jualan. Kata orang dia ketagihan nomor togel. Tu lah leha, menurut betul dengan suami baru dia. Dia pulak yang sibuk kerja kerja keras banting tulang!”.
“Mungkin karena dia sayang”.
“Bukan sayang tapi bodoh”
“Mengapa pulak bodoh?”
“Karena kerja keras untuk bayar kredit Honda itu lah”.
“Haa, jadi si Leha kredit Honda?”
“Iyoo…Itulah yang membuat orang-orang geram. Saking menurutnya dengan laki-laki tu, dibelinya juga Honda kredit ke Pakning sana. Dan dia yang kerja mencungkil pinang untuk membayar angusarannya. Sedang laki-laki tu?. Huh, pergi melala ke sana-sani tak tentu arah”.

Mak eh, pening kepala ku mendengar kisah si Leha ni.

Belum sempat aku tegak mau pamit berangkat mengajar terdengar suara perempuan dari depan rumah.
“Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam” jawab kami berdua serentak. Si leha yang rupanya datang.
“Sepagi ini dah nyaghii buah pinang Leha?” istriku menyambutnya.
“Iya kak” kata leha tersenyum riang. Kesan baju kurung melayu jingga nya mulai lusuh terhapus oleh senyum riangnya.

“Pak guru, buah pinang yang telonggok di rumah tu boleh kami beli?” katanya sopan menatapku.

Refleks aku menunduk, menatap keharibaan bumi pertiwi Indonesia kita ini.

“Boleh, timbanglah” isteriku yang menjawab cepat.
“Mano suami engkau Leha?” selidik istriku.
“Dah berangkat pasar kak” jawab Leha sambil tertawa kecil.
“Apa dibuatnya di pasar?”.
“Entah”.
“Kau tu lah leha. Kasihan kakak nengok engkau tu. Engkau pulak yang teruk bekerja, sedang suami kau beleha-leha saja hidupnya” cerocos istriku.
“Biarlah kak tak apa” katanya dengan riang. Heran, tidak ada guratan sedih di wajahnya.
“Honda lamo kau dah jual?”.
“Dah..”.
“Emas-emas engkau pun dah habis?”.
“Habis kak”.
“Tanah kebun?”.
“Ado sikit lagi”.
“Sekarang kredit pulak honda baru?”.
“Untuk usaha kak, keliling mencari buah pinang”.
“Usaha hapo namo, engkau keliling mencari pinang pakai sepeda jugo kakak nampak”.
“Biarlah kak tak apa” katanya sambil memasukkan buah pinang ke goni.
Isteriku membantunya.
“Engkau tu patuh betul dengan suami” sambung isteriku.
“Iya kak”.
“Bodoh betul”.
“Patuh atau bodoh kak?”
“Patuh dan bodoh”.
“Biar lah kak”.
“Bertambah teruk engkau nantik”.
“Biarlah kak”.
“Biar terus-biar terus kato hengkau. Biar apa?”

Leha terdiam.

“Biar apa haa..?” desak istri ku.
”Ha Leha, biar apa?”.
“Biar masuk surga kak”
“Haa..”.
Istriku terpana, aku tertegun.
“Iya kak, biar bisa masuk surga ”.
Kami berdua hening, sangat hening… bahkan mungkin seluruh orang kampung andai mendengar jawaban Leha.

The end..

————————

Sungai Apit tercinta, 09 April 2020.
#StayAtHome.
*Like and Shere jika anda menyukai cerpen ini.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *